Al Haramain

Bismillah

Ada sedikit rasa jemu ketika memperhatikan blog saya ini. Sesuai namanya, dapur comel, tentulah blog ini berisi resep-resep dan masakan yang pernah saya coba berikut lika liku pembuatannya. Namun menurut saya, ada baiknya untuk menghilangkan kemonotonan tersebut, diantara resep diselipi kisah-kisah perjalanan saya di negeri Rasulullah ini. Meskipun out of the topic, tapi nggak ada yang melarang kan? Barangkali diantara teman-teman ada juga yang ingin mendengarkan kisah tersebut. ^~^  

Dimulai dari tahun 2011 bulan september ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di negeri Madinah al munawwarah, negeri dimana Rasulullah tinggal, negeri para sahabat anshar. Perasaan bahagia membuncah di hati ini manakala mengetahui bahwa saya juga akan mencicipi manisnya tinggal di Madinah. Alhamdulillah….nikmat yang diberikan Allah sungguh tiada tara. Melihat Masjid Nabawi dari dekat, shalat di dalamnya, pahalanya 10.000 x daripada tempat manapun di seluruh dunia selain Masjidil Haram.  

Awal kedatangan sempat menumpang di rumah seorang ummahat untuk sementara waktu, kemudian berpindah-pindah apartemen kontrakan satu dan yang lainnya menjadi pengalaman yang berharga hingga sekarang. Belajar mandiri, jauh dari orang tua. Merajut impian bersama zauji dan anak-anak menjadi keluarga yang sakinah, diselimuti ketakwaan dan diberkahi oleh Allah adalah impianku diantara impian-impian lainnya. Sesekali di liburan musim panas, jika diberikan rezeki, kami pun mudik mengunjungi orang tua di indonesia.  

Perbedaan iklim yang cukup jauh dengan indonesia, hampir saja membuat saya terkaget-kaget. Di indonesia, udara biasanya terkesan lembab, sedangkan di madinah, udara sangat kering. Di musim panas, matahari bersinar terik dan udara panas kering, suhunya bisa mencapai 60 C pada puncak summer, terkadang membuat zauji pening dan bahkan ada beberapa orang yang mimisan karena panasnya. Sedangkan di musim dingin, udara yang dingin dengan angin dingin berhembus dari eropa, hingga mencapai 2 C di puncak winter. Curah hujan yang sangat sedikit per tahunnya. Untuk mencegah kekeringan tersebut, kita dianjurkan banyak minum dan sesekali mengoles kulit yang kering dengan minyak dan vaseline untuk menghindari bagian kulit yang pecah-pecah.  

Masakannya pun jauh berbeda dengan indonesia, walaupun sama-sama memakan nasi, tapi roti juga merupakan makanan pokok disini. Apabila teman-teman mengikuti resep-resep saya sebelumnya, seringkali saya menyebutkan tentang makanan ala arab. Orang arab sangat menyukai halwa atau manisan. Kue-kuenya sangat manis. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, pertama sekali saya mencicipi asir(jus) disini, sangatlah manis di lidah hingga saya mencampurnya lagi dengan air supaya bisa dinikmati. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya sudah beradaptasi dan terbiasa dengan manisnya asir dan makanan disini.  

Masyarakat arab juga senang sekali saii (teh) dan gohwa (kopi ala arab). Pagi, siang dan malam, minuman ini tak pernah ketinggalan. Acara kumpul-kumpul pun selalu ditemani dengan teh atau kopi yang super panas, saya saja sangat kaget dengan kebiasaan minum minuman yang sangat panas ini. Belum lagi mereka juga sangat menyukai pepsi dan minuman bersoda, bahkan pagi hari pun mereka minum minuman berkarbonasi tersebut. Hampir di setiap baqolah menjual minuman soda ini. Kebiasaan ini merupakan kebiasaan buruk karena menimbulkan banyak efek samping dan penyakit yang serius pula. Kebiasaan memakan makanan yang manis mengakibatkan penyakit diabetes. Sakit gigi yang seringkali melanda masyarakat arab dikarenakan kegemaran menikmati minuman super panas. Dan gagal ginjal disebabkan seringnya mengkonsumsi minuman soda berkarbonasi.  

Untuk makanan berat, penduduk sini menggemari beras basmati yang tekstur berasnya panjang-panjang dan jika dimasak akan “berserak”. Uniknya memasak nasi akan dicampur dengan rempah dan bunga-bunga. Karena nasi dari india ini cenderung mengeluarkan bau yang tidak sedap, untuk meminimalisirnyalah beras ini dimasak dengan rempah dan bunga. Beberapa jenis nasi tertentu dimasak dengan za’faran dan minyak zaitun. Porsi makanan orang arab sangatlah banyak. Satu porsi mereka bisa dinikmati tiga orang indonesia dewasa. Belum lagi, satu porsi nasi arab itu dengan satu ekor ayam, berbeda jauh dengan porsi nasi indonesia yang satu potong ayam, hehehee. Orang arab sangat menyukai daging. Daging kambing merupakan makanan favorit mereka. Daging sangat bagus untuk tenaga dan proteinnya membuat badan kekar dan kuat. Daging unta dan daging sapi memegang urutan setelah daging kambing.  

Berbicara tentang akhlak penduduk sini, orang arab terkenal dengan ketegasan, kewibawaan dan menjunjung harga diri. Mereka paling anti diremehkan. Orang arab sangat menghormati wanita, terlihat dari perlakuan mereka terhadap istri dan anaknya. Istri ibarat ratu. Yang berbelanja dan menyelesaikan segala keperluan diluar adalah laki-laki. Wanita hanya perlu mengurus rumah saja, dan sesekali berjalan-jalan keluar dengan suami untuk refreshing. Rasa cemburu dan melindungi wanita juga sangatlah kuat. Apalagi wanita pribumi. Akhlak yang paling indah lainnya adalah dermawan. Orang arab terkenal dengan kedermawanannya. Seringkali halaqoh memberikan makanan digelar di masjid nabawi apalagi ketika hari-hari shaum. Mereka terbiasa memberi anak kecil. Apalagi terhadap mahasiswa atau thullab seperti kami, mereka memberikan banyak kemudahan.  

Memang ada juga beberapa akhlak mereka yang tidak baik. Dan mirisnya akhlak buruk dari masyarakat awam lah yang sering ditonjolkan media. Padahal jika kita ingin berkaca, penduduk manapun dibelahan dunia ini, pastilah ada yang baik dan ada yang buruk. Hendaknya kita sebagai orang yang hanya tau dari media dan omongan beberapa orang tidaklah mengecam berlebihan. Berfikir obyektiflah. Bukankah kita disuruh berhusnuzon terhadap saudara. Tak terkecuali dengan orang arab sekalipun. Karena kita sama-sama muslim dan saudara seiman.  

Back to kisah saya disini. Hari-hari saya dilalui dengan pekerjaan rumah tangga di rumah. Mendukung suami belajar di madinah adalah tujuan saya berada disini. Beberapa hari sekali shalat di masjid nabawi atau jalan-jalan pagi disekitar masjdi nabawi. Terkadang ke hadiqoh(taman) untuk mengajak anak bermain. Sesekali rihlah ke mantiqoh baidha dan bakar-bakar sate bersama keluarga indonesia lainnya. Ada juga taklim akhwat yang diadakan sekali sepekan. Kebersamaan senasib seperjuangan membuat antara keluarga indonesia disini ada perasaan dekat.  

Perjalanan pertama kali setelah menginjakkan kaki di madinah, di negeri jazirah arab ini adalah umroh ke makkah setelah umroh pertama ketika saya masih sma dahulu. Ada perasaan rindu yang teramat sangat dengan kota kelahiran Rasulullah terutama ka’bah, baitullah yang selalu dirindu dan dinanti-nantikan. Bahagia sekali rasanya akhirnya bisa tawwaf mengelilingi ka’bah, sa’I di bukit safa dan marwa dan menyelesaikan prosesi umroh di Makkah al mukarramah. Umroh-umroh selanjutnya kemudian menyusul dalam rentang waktu beberapa bulan. Ingin rasanya jika diberikan kesempatan untuk selalu umroh, mumpung berada di madinah dan sebelum kembali ke indonesia lagi. Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan dan keberkahan tinggal disini. Aamiiin ya Rabb. Yassarallahu umuurokii wa barokallahu fikii, aamiiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s