Musim Dingin di Yanbu’

Bismillah  

Setelah lahirnya abdullah pada januari 2013, tentunya harus dibuatkan paspor juga. Seperti peraturan yang baru-baru ini direalisasikan, per kepala harus memiliki paspor tidak terkecuali anak-anak dan bayi. Biasanya pengurusan administrasi dilakukan di konsulat indonesia di jeddah, namun bulan ini kebetulan ada stand di yanbu’ yang lebih dekat dari madinah. Sekitar 3 jam perjalanan dengan menaiki mobil. Bismillah, saya pun berangkat bersama keluarga, adik laki-lakiku serta satu keluarga ummahat lainnya.  

Dalam perjalanan ke yanbu’, saya takjub dengan alam saudi. Penuh padang pasir sahara dan bebatuan serta gunung batu terjal. Hanya seikit perdu-perdu yang tumbuh atau pepohonan tunggal berdaun kecil. Terkadang kami melewati sekumpulan unta dan domba berbulu putih maupun hitam. Walaupun jauh dari kata kesejukan, namun karena kami berangkat pada musim dingin, perjalanan ini menjadi tidak begitu melelahkan seperti perjalanan pada musim panas. Kami juga melewati beberapa wadi atau lembah kering tanpa air. Biasanya kalau turun hujanlah, wadi itu baru terisi air. Ada juga tenda-tenda suku arab badui yang memang tempat tinggalnya masih di padang pasir.  

Sesampainya di yanbu’, aroma laut pun mulai tercium. Udara mulai menghangat karena dekat dengan air laut. Yanbu’ adalah salah satu kota industri di saudi arabia. Pabrik-pabrik besar berdiri dan berjejer di sepanjang jalan menuju yanbu’ kota. Konfoi mobil langsung mengarah ke kantor yang dijadikan stand konsulat indonesia. Disana ternyata sudah banyak orang indonesia yang mengurus paspor atau memperpanjang paspor. Setelah urusan selesai, kami makan dan beristirahat sejenak di restoran indonesia, sembari menikmati makanan indonesia. Saya memesan sate ayam dan bakso. Kangen dengan sate akhirnya cukup terobati.  

Sesudah makan, kami pun menuju ke pantai yanbu’, salah satu objek utama serta icon kota ini. MasyaAlloh, air lautnya sangat biru. Mungkin karena pantulan sinar matahari yang sangat terik disini. Baru pertama kali saya melihat air sebiru ini. Beberapa anak-anak terlihat bermain di area permainan di dekat pantai. Ada juga mobil-mobil kecil yang digunakan anak-anak remaja mengelilingi pantai. Beberapa tenda didirikan di pinggir pantai. Kami pun tak ketinggalan mendirikan tenda untuk tempatku berteduh serta abdullah yang masih berumur sebulan. Yang berenang dilaut hanyalah anak-anak dan laki-laki, para ibu melihat anaknya dipinggir pantai. Saya menyusuri pantai sambil mengabadikan foto harits yang sedang asyik masyuk bermain air bersama abinya.  

Puas bermain di pantai, kami dikabarkan kalau terdapat makhrojan zuhuur (pameran bunga) internasional yang biasa diadakan setahun sekali di musim dingin di yanbu’. Kebetulan yang sungguh tidak disangka-sangka. Walaupun badan cukup letih, tapi kami tetap melanjutkan perjalanan ke pameran bunga, sayang sekali kalau dilewatkan kan? Dan ternyata masyaAlloh tabarokallah, bunganya terhampar seluas mata memandang, aneka bunga warna warni membentuk sebuah sketsa padang bunga yang indah. Beberapa stand yang menjual bunga-bunga juga didirikan. Tak lupa saya membeli setangkai bunga mawar sebagai oleh-oleh. Tak terasa waktupun berlalu dan kami beranjak pulang kembali ke madinah. Sungguh perjalanan yang indah yang akan selalu dikenang.  

Note: beberapa waktu kemudian, diadakan juga pameran bunga di madinah, namun padang bunganya tak sebesar di yanbu’ yang taraf internasional. Alhamdulillah kami dapat menikmati kedua pameran tsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s