Jeddah, The City of Sea Port

Bismillah

Kota ketiga setelah makkah dan yanbu’ yang menjadi tujuan rihlah kami adalah jeddah. Sesekali ingin juga rehat sejenak dari aktivitas monoton di rumah. Mengunjungi kota-kota bersama keluargapun bisa menjadi pilihan. Tujuan utamanya tentu saja umroh ke makkah. Mumpung masih tinggal di madinah, kesempatan umroh jangan pernah disia-siakan.

Perjalanan bermula jam sembilan pagi setelah menjemput adik di jami’ah islamiyah, kami langsung tancap gas menuju makkah. Angin dingin berembus sangat kencang menerpa. Jaket dan sweater tak ketinggalan dipakai erat membalut badan. Perjalanan santai bersama keluarga. Sesekali kami berhenti di pom bensin dan istirohah untuk makan dan shalat. Setengah perjalan, udara menghangat cenderung panas. Udara di Makkah berbeda jauh dengan madinah yang dingin. Sungguh ajaib sekali.

Sesampai di Makkah sore harinya, setelah check in di hotel, mandi dan beristirahat sejenak. Kami pun menuju masjidil haram, masjid yang selalu kurindukan. Hanya saya saja yang umroh, zauji dan adik hanya menemani dikarenakan zauji harus menjaga anak-anak dan adikku baru saja umroh. Tawwaf bersama adikku mengingatkanku ketika umroh pertama dahulu, waktu itu adikku masih kecil, saya yang sudah remaja berlindung dibalik punggung adik kecilku. Tak terasa sekarang dia sudah besar dan bahkan lebih tinggi dariku. Waktu semakin cepat berputar meninggalkan segala kenangan masa lalu jauh dibelakang.

Setelah mengerjakan prosesi umroh, kami kembali ke hotel. Tahallul dan beristirahat. Barulah besok paginya, kami berangkat menuju jeddah. Perjalanan yang tidak begitu jauh, hanya sekitar sejam saja dari makkah. City of sea port, pelabuhan dan laut terlihat di pinggiran jalan jeddah. Siang tiba di jeddah dan makan siang di cornest, sebuah pusat perbelanjaan di jeddah. Banyak jemaah umroh yang mampir disini membeli oleh-oleh dan juga karena terdapat rumah makan indonesia disana. Senang sekali dapat menikmati mie ayam beserta bakso dan kerupuk pangsit. Mengobati kangen dengan negeriku indonesia. Puas berkeliling di cornest, kami pun pulang menuju madinah. Sembari melewati thariq al balad, sebuah jalan lama di jeddah. Banyak bangunan tua dan bersejarah yang masih berdiri di pinggir jalan tersebut. Sengaja dipelihara sebagai saksi bisu sejarah akan masa lampau. Juga ada masjid terapung, masjid yang dibangun diatas laut merah, serta masjid qishas, masjid yang memiliki lapangan untuk menghukum para napi.
Pulangnya kami melewati unta dan saya pun mengabadikannya dengan camera.

Perjalanan yang indah bersama keluarga. Kendalanya hanya anakku harits yang seringkali ingin ikut mengemudi dan mengamuk-ngamuk minta makan dan jalan-jalan. Memang butuh kesabaran extra bersafar bersama anak-anak. Mungkin safar yang berikutnya menunggu mereka sedikit dewasa dan sudah faham, insyaAlloh.

—-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s